atau klik di sini
Media Informasi dan Komunikasi Pendidikan Kabupaten Kendal.
Blog sederhana dengan harapan dapat menjadi layanan informasi dan media komunikasi pendidikan di Kabupaten Kendal.
Kurikulum dengan tetap berbasis pada KBK dengan muatan pendidikan karakter bangsa yang kuat telah dilaksanakan di 5 sekolah piloting, ayo bersama mensukseskannya
"Pelaksanaan Pembinaan Sekolah dan Guru di SMA 1 Gemuh Kendal, terlihat pengawas SMA (Drs. Utomo, M.Pd). sedang memberikan arahan administrasi kepada salah seorang guru"
""Mari Kita Jaga Stabilitas Politik dan Pertumbuhan Ekonomi Kita Guna Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat""
Kiprah Guru Kabupaten kendal pada lomba pengembangan pembelajaran berbasis ICT yang dilaksanakan oleh BPTIK Jawa Tengah.
Kiprah Guru Kabupaten kendal pada lomba pengembangan pembelajaran berbasis ICT yang dilaksanakan oleh BPTIK Jawa Tengah.
Photo Bersama Team OSN Kabupaten Kendal sebelum berlaga di tingkat Propinsi
Sebagai penerapan Pendidikan Budaya dan Karakter bangsa perlu dilaksanakan kegiatan-kegiatan pembiasaan yang memungkinakan penanaman nilai-nilai tersebut, yang diantaranya adalah kegiatan pengibaran bendera yang dilaksanakan setiap pagi di SMA 1 Cepiring
Pelaksanaan Detik-detik Proklamasi Kabupaten Kendal tahun 2012. dr Hj. Widya kandi Susanti sebagai Pembina Upacara akan meyerahkan Bendera Merah Putih untuk dikibarkan oleh pasukan pengibar bendera kabupaten kendal
Sebagai upaya untuk mewujudkan "GoGreen" Kabupaten Kendal, Karang taruna desa Cepiring bekerjasama dengan IGN (Industri Gula Nasional) Cepiring dan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Kendal menyelenggarakan kegiatan Nyepeda Bareng Bupati Kendal tahun 2011
Cukup mengagetkan ketika melihat respon siswa setelah selesai dan keluar dari ruang Ujian Nasional hari ini dan setelah ditanyakan tentang Ujian Nasioanl Kimia yang baru saja dilaluinya, mereka berkomentar bahwa soal sebenarnya tidak terlalu sulit tapi cukup membingungkan. Model penyajian soalnya berbeda dengan soal-soal Ebtanas dan soal-soal try out yang selama ini telah coba untuk di geluti dan dipelajari.
Setelah diperbolehkan membuka soal-soal tersebut, memang benar yang disampaikan oleh siswa bahwa memang model penyajian soal berbeda dengan soal ebtanas atau soal try out dan prediksi soal yang umumnya tertuju pada soal-soal kognitif dan mengukur kemampuan siswa dalam mengerjakan soal-soal hitungan.
Terlihat nyata sekali hal yang dapat dicermati dari soal-soal Ujian Nasional Kimia tahun 2008 ini adalah :
Kondisi sedemikian sepertinya menjadikan kaget kepada para siswa yang selama ini sudah dipersiapkan untuk mengerjakan soal-soal dengan tingkat kesulitan cukup tinggi justru pada mekanisme perhitungan. Sehingga terkesan siswa tidak dapat mengerjakan soal-soal tersebut dengan mantap.
Terlepas dari hasil yang akan muncul pada Ujian Nasional tahun ini sepertinya model soal sedemikian akan membawa dampak postif sebagai berikut :
DOMINASI negara dalam penyelenggaraan ujian negara tahun 1945-1964 berakibat peserta yang lulus amat sedikit. Pada sistem ujian sekolah penuh (1965-1982), sekolah menyiapkan peranti ujian, melaksanakan, dan menentukan kelulusan. Peserta ujian lulus 100%, tetapi mutunya memprihatinkan dan tidak terstandarkan. Periode 1983-2002 diperkenalkan sistem ebtanas. Kelulusan siswa umumnya terganjal nilai ebtanas murni (NEM) yang rendah, tetapi sekolah leluasa mengontrol nilai rapor semester V dan VI sampai di luar ambang rasional. Hampir tiap sekolah meluluskan 100%, meskipun secara hakiki banyak yang tidak layak lulus.
Pada era UN (2003-sekarang), penentuan passing grade yang tiap tahun naik merupakan stressor yang menghantui siswa dan guru. Namun semua itu tidak diimbangi masukan yang terseleksi ketat, motivasi belajar yang baik, metode dan media yang efektif, intensifikasi KBM, serta pembenahan kurikulum.
Diakui, UN menjadi incentive learning. Berbagai kiat dan program pun dilakukan seperti bimbingan belajar dan penambahan jam belajar. Namun upaya itu dikhawatirkan hanya mengejar target nilai, sedangkan proses KBM gersang dan kehilangan makna. Bahkan siswa belum tentu memahami apa yang dipelajari. Namun rerata nilai ujian yang rendah pun mengecewakan peserta ujian, menyebabkan frustasi guru, dan berefek pada penerimaan siswa baru serta akreditasi sekolah.
Pencurangan UN semakin absurd. Misalnya, sejumlah pendidik meresahkan isu bocoran soal/kunci, pengawas ujian makin permisif, oknum mengedarkan presensi nyambi memberikan jawaban UN, dan mencontek lewat SMS. Ada juga modus pemanggilan peserta sebelum ujian usai, seperti satu Candra, dua Edi, tiga Ani, empat Dedi, lima Budi, yang sebenarnya sedang memberikan jawaban. Anehnya, tak ada nama dengan huruf awal F, G, S, karena jelas tak ada jawaban soal dengan huruf tersebut.
Hasil UN bukan semata-mata kebutuhan siswa, melainkan telah jadi kebutuhan berbagai pihak. Namun kecurangan harus tetap diberantas, sebab akan berimplikasi negatif terhadap pembentukan karakter siswa.
Karena itu, nilai kejujuran harus ditumbuhkembangkan, pendekatan proyek harus dihilangkan. Ranah afektif, psikomotorik, dan pengembangan kreativitas seharusnya sudah beres pada proses KBM. Selain itu, pemerintah harus constructive remarks, melakukan inovasi sistem ujian yang ideal.
— Penulis adalah guru SMK 5 Semarang
Copyright 2010 JIP Kab. KENDAL
Designed by CamelGraph |
Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Templates