Dynamic Glitter Text Generator at TextSpace.net
Terwujudnya Kendal yang Beriman, Bertaqwa, Cerdas, Terampil dan Berbudaya

30 April 2008

Hasil Olimpiade Sains kab.Kendal tahun 2008

Diberitahukan kepada semua SMA/MA se Kabupaten Kendal bahwa Olimpiade sains nasional tinbgkat Kabupaten Kendal dapat dilihat pada : http://asia.groups.yahoo.com/group/Pendidikan_Menengah/files/
atau klik di sini

28 April 2008

Dilema Pengawasan UN

Posted by Unknown 9:32 AM, under ,,, | No comments

Ditulis oleh seorang guru di Wonosobo, diambil dari mailing list cfbe

Bermata tapi tak melihat,bertelinga tapi tak mendengar….. Tiba-tiba saya jadi ingat syair lagu milik Bimbo tersebut. Inti dari kalimat itu ialah orang yang seharusnya mampu melihat dan mampu mendengar karena memiliki mata dan telingga. Banyak sebab mengapa orang menjadi buta dan tuli meskipun memiliki panca indera yang utuh. Makna yang lebih dalam lagi yaitu buta tuli soal hati nurani.
Dua hari menjadi pengawas ujian nasional SMA bagi saya sangatmakan hati. Segala perasaan sebagai guru menjadi campur aduk,antara yang kasihan melihat beban psikologis anak juga perasaan tanggung jawab profesional sebagai pengawas. Kebetulan saya menjadi pengawas di salah satu SMA swasta. Seperti kebanyakan siswa-siswa di sekolah yang lain,betapa menakutkan dan menegangkan ketika anak IPS sekolah tersebut harus mengerjakan soal matematika. Tahun ini untuk pertama kalinya mata pelajaran matematika menjadi mapel ujian nasional. Banyak siswa IPS yang dahulu memilih jurusan IPS hanya karena menghindari matematika meskipun di program IPS tetap ada sampai kelas XII,namun tahun-tahun sebelumnya tidak diujiankan nasional. Selama dua jam menjadi pengawas bersama satu pengawas yang lain ,saya sangat menderita. Satu jam pertama saya berusaha mengendalikan perasaan saya yang sedang berkecamuk.Bagaimana mungkin,secara vulgar mereka saling memberikan jawaban meski tipe soal beda A dan B ( kata anak-anak soalnya antara A dan B mirip hanya nomernya beda) mereka dengan cueknya tengok kanan kiri. Kami sudah berusaha memperingatkan tapi seakan mereka tidak peduli pada para pengawas. Kami masih berusaha sabar karena beban psikologis mereka. Namun apakah karena kami memahami beban tersebut justru sikap kami menjadi permisif? Seperti anak kecil yang berbuat kesalahan,kita jarang mau berkata jujur bahwa itu salah. Kita dengan mudah memaafkan mereka karena menyadari bahwa mereka masih kecil. Apakah anak-anak itu minta dikasihani oleh para pengawas dengan membiarkan berbuat seenaknya? Akhirnya ketika waktu hampir habis,30 menit kami tegas saja. Bukan berarti pengawas diam itu berarti mereka bebas seenaknya. Saya sempat menatap mata salah seorang siswa yang dari awal sibuk cari-cari jawaban. Alhasil malah saya yang gantian dipelotin oleh dia. Saat itu sungguh saya merasa dilema menjadi seorang pengawas ujian. Kami sebagai pengawas pun tidak hilir mudik kesana
kemari. Selama satu setengah jam kami duduk manis. Kurang lima menit waktu habis,lembar jawab siswa yang duduk di depan meja guru,masih banyak yang belum diisi. Saya sempat iba karena jelas dia tidak bisa seenaknya seperti teman yang lain meminta jawaban kepada teman. Ketika bel tanda berakhir saya meminta mereka untuk meninggalkan tempat ujian tapi beberapa anak berteriak ”sebentar Buk....” saya berpikir positif bahwa mereka memang butuh waktu untuk menghitamkan jawaban namun di pihak lain kesempatan itu digunakan untuk meminta jawaban secara vulgar. Saya sempat ”gilapen” apa-apaan ini. Akhirnya dengan menepuk-nepuk meja saya menghalau siswa yang sengaja mengambil jawaban teman. Pulang mengawasi ujian,saya menitikan air mata. Saya tidak mengira kejadian tadi yang disebut ujian nasional. Mengapa anak-anak menyikapi kegalauan dan kekuatiran tidak lulus dengan sikap yang negatif? Mengapa kami para pengawas seakan-akan dihimbau pengertiannya untuk memahami situasi berat
ini dengan memberi kelonggaran kepada mereka. Kami melihat sesuatu yang sangat menyakitkan dalam proses belajar namun kami seakan tidak punya power. Kami harus berdamai dengan situasi,kooperatif dengan mereka. Hati nurani saya tersiksa. Saya tidak menduga,malam harinya saya ditelfon kepala sekolah saya dan diingatkan jangan terlalu serius menjaga ujian. Kalau melihat anak-anak yang saling memberi jawaban,pura- pura tidak tahu saja. Saya cukup kaget karena saya harus berkompromi dengan sesuatu yang bertentangan dengan hati nurani saya. Saya mohon kepala sekolah mencari pengganti pengawas yang sekiranya bisa kooperatif. Tetapi permohonan saya tidak dikabulkan hanya dijanjikan tahun depan saya tidak akan diusulkan jadi pengawas karena kebetulan mapel saya Bahasa Indonesia karena biasanya di tempat kami tidak punya tugas mengawasi. Hanya karena ada beberapa teman yang mengikuri prajabatan maka saya dan dua orang menggantikannya.
Hari kedua,sebelum masuk ke ruangan ,panitia mengingatkan kepada para pengawas untuk tidak terlalu galak. Sejak tadi malam saya menduga pasti panitia mendapatkan laporan anak-anak(meski belum tentu benar laporan mereka) dan menghubungi kepala sekolah saya. Saya memaksakan diri datang meski setengah hati mengingat perintah kepala sekolah saya untuk menjaga hubungan dengan sekolah lain. Saat briefing ,para pengawas dimohon kerelaannya untuk menciptakan suasana sejuk ,mbok yang familiar dengan anak-anak. Kasihan anak-anak yang dapat pengawas yang sungguh-sungguh bekerja,ketika mengatakan hal itu panitia tersebut sebenarnya sambil guyon tapi bagi saya sangat menyakitkan hati. Saya heran dengan pernyataan itu, artinya ketika pengawas bekerja sesuai ketentuan malah dianggap merugikan anak-anak. Saya jadi apatis,percuma juga kalau saya ingin menjelaskan kepada panitia situasi yang terjadi kemarin karena menurut saya mereka tidak butuh argumen saya,yang mereka butuhkan ya
guru-guru yang kooperatif dan krompromis.
Hari kedua saya lalui tanpa kesan karena saya menjadi begitu cuek jadi pengawas. Teman pengawas yang lain juga banyak yang merasakan seperti saya,sikap mereka ”porah-porah” artinya terserah aja deh.. Ternyata anak-anak tidak hanya saling ngobrol,mereka sungguh tidak punya malu lagi. Bahkan sobekan kertas saling dilempar. Gambaran tentang pendidikan di Indonesia tergambar sangat jelas di hadapan saya. Mengapa yang namanya ujian nasional mengajari orang bersikap tidak jujur. Kepanikan tidak hanya dirasakan murid tetapi guru sehingga guru pun menjadi begitu tegang. Akibatnya menyerah kalah dengan membiarkan dan memberi kelonggaran anak-anak saling memberi jawaban. Kasihan,biarkan saja.....
Beberapa tahun yang lalu di salah satu SMA pinggiran di kota saya,mobil milik pengawas ujian sengaja dirusak oleh anak-anak yang merasa dirugikan karena tidak bisa minta jawaban teman gara-gara diawasi oleh pemiliki mobil tersebut. Kekanak-kanakan dan sungguh tidak dewasa,ironis sekali. Mengapa guru-guru menjadi mudah menyerah, dan gentar dengan sikap anak-anak yang cenderung anarkis? Kadang kesannya guru jadi cari amannya sendiri dengan berkompromi membiarkan segala tingkah polah anak-anak ketika ujian. Sungguh dilematis menjadi pengawas ujian nasional...

Salam,
y. maryati
wonosobo

27 April 2008

seamolec menggandeng sekolah2 yg akan dijadikan mitra 500

Posted by Rahmawan Hatmantrika, M.Kom 9:34 AM, under ,,, | No comments

Pada tahun 2008 ini, seamolec akan menyelenggarakan kelanjutan pjj-s1-pgsd tahun ketiga, sedangkan penyelengara di wilayah jawa tengah hanya ada 3 penyelenggara yaitu, unes, uns dan uksw, tahun ini tambah 2 penyelenggara um surakarta dan um purwokerto, jumlah guru SD yg blm S1 di jawa tengah kurang lebih sejumlah 206.000 orang, dengan jumlah yg begitu besar, maka provider penyelengaraan pjj S1 PGSD tidak mampu unt menampung apalagi sistem penyelenggaran pjj S1 PGSD juga blm bisa penuh penyelenggaraan dg sistem 30 % tatap muka, 70 % no tatap muka dengan akses internet, maka unt itu seamaloc mengandeng mitra 500, adapun mitra 500 adalah sekolah2 SMP, SMA, SMK, MA dengan kriteria sbb;
1. sekolah yg jadi ict center atau
2. sekolah bertaraf internasional (SBI) atau
3. sekolah taraf nasional (SSN) atau
4. sekolah mandiri atau
5. sekolah inklusi
untuk no. 1 sampai 5, sekolah tersebut harus sudah mempunyai sertifikat ISO 9001:2000, jika belum mempunyai sertifikat ISO ada kesempatan 6 bulan untuk mendapatkan sertifikat iso tersebut, kami mohon kordinator ict center atau semua pendamping atau mahasiswa d3 untuk bisa melaporkan tiap kota dan kabupaten sekolah2 yang tersebut diatas, yang dilaporkan, cukup nama sekolah dulu saja, data tersebut akan kami laporkan kepada bpk kepala dinas provinsi dan bpk direktur seamolec pada hari selasa 29 april 2008 di dinas provinsi semarang, demikian terima kasih.

sumber :
1. http://jardiknasjateng.org/blog/
2. YM dengan pak kasmadi 27 April 2008 jam 09.30

25 April 2008

Catatan Monitoring UN bersama Wakil Bupati

Posted by Utomo 8:11 PM, under ,,,, | No comments

Hari pertama ujian nasional panitia ujian nasional bersama Kadinas dan Wakil Bupati Kendal mengadakan monitoring pelaksanaan ujian nasional. Mestinya panitia sudah menyiapkan SMA1, SMK1. SMK 2 dan MAN Kendal untuk dikunjungi Wakil Bupati, tetapi ternya bu Markesi (Wakil Bupati Kendal) meminta yang berbeda, beliau meminta untuk mengunjungi Kecamatan Kaliwungu dan Boja.
Pak Hasbi (Kakandedpag Kendal) ternyata tetap meminta Wakil Bupati untuk datang di MAN, dan belaiau setuju sebagai sekolah peryama yang akan dikunjungi. kemudian ke SMK 4 Kendal, SMA kaliwungu dan SMAN Boja.
Selengkapnya di :http://utomokdl.blogspot.com/

24 April 2008

Mengesankannya Soal Kimia Ujian Nasional 2008, Salut Buat BSNP

Assalamualaikum wr. wb.

Cukup mengagetkan ketika melihat respon siswa setelah selesai dan keluar dari ruang Ujian Nasional hari ini dan setelah ditanyakan tentang Ujian Nasioanl Kimia yang baru saja dilaluinya, mereka berkomentar bahwa soal sebenarnya tidak terlalu sulit tapi cukup membingungkan. Model penyajian soalnya berbeda dengan soal-soal Ebtanas dan soal-soal try out yang selama ini telah coba untuk di geluti dan dipelajari.

Setelah diperbolehkan membuka soal-soal tersebut, memang benar yang disampaikan oleh siswa bahwa memang model penyajian soal berbeda dengan soal ebtanas atau soal try out dan prediksi soal yang umumnya tertuju pada soal-soal kognitif dan mengukur kemampuan siswa dalam mengerjakan soal-soal hitungan.

Terlihat nyata sekali hal yang dapat dicermati dari soal-soal Ujian Nasional Kimia tahun 2008 ini adalah :

  1. Terdapatnya soal-soal dengan data (wacana) yang sama yang digunakan untuk mengerjakan beberapa soal sekaligus (Untuk paket A, Soal No 1 s.d. 3, Soal No 18 dan 19, Soal No 33 dan 34, Soal No 38 dan 39.
  2. Beberapa soal sangat kuat nuansa praktikumnya (Soal No 8, 9, 11, 14, 16, 30, 33, 34, 36.
  3. Paket Soal A (P14) dan Paket Soal B(P47) tidak ada perbedaan soal, yang ada hanyalah peletakan soal pada nomor soal yang berbeda.
  4. Perbandingan antara soal hafalan/pemahaman dengan soal hitungan sangat menonjol pada soal hafalan/pemahaman, ini berbeda dengan soal-soal Ebtanas yang pada umumnya lebih menitik beratkan pada soal-soal hitungan. Soal hitungan : Soal Nomor 5, 7, 10, 12, 27, 28, 30, 31, 34, 35, (10 soal atau 25%)
  5. Kecenderungan soal diarahkan pada soal-soal yang kontekstual, soal-soal yang ada hubungannya dengan keseharian dan kimia praktis dalam kehidupan., Soal No : 6, 7, 16, 23, 24, 25, 27, 32, 38, 39, 40
  6. Kekuatan soal adalah pada penguasaan konsep bukan pada kemampuan melakukan perhitungan matematis, bahkan terkesan perhitungan yang muncul adalah perhitungan-perhitungan sederhana.

Kondisi sedemikian sepertinya menjadikan kaget kepada para siswa yang selama ini sudah dipersiapkan untuk mengerjakan soal-soal dengan tingkat kesulitan cukup tinggi justru pada mekanisme perhitungan. Sehingga terkesan siswa tidak dapat mengerjakan soal-soal tersebut dengan mantap.

Terlepas dari hasil yang akan muncul pada Ujian Nasional tahun ini sepertinya model soal sedemikian akan membawa dampak postif sebagai berikut :

  1. Guru Mata Pelajaran
    • Guru akan lebih menekankan pada penguasaan konsep, bukan pada prosedur pengerjaan soal.
    • Guru akan terdorong untuk lebih memfokuskan metode pembelajaran pada perolehan pengetahuan dengan menggunakan Laboratorium.
    • Guru akan terdorong untuk menggali informasi kontensktual yang berhubungan dengan konsep yang sedang diajarkan.
  2. Siswa
    • Siswa akan belajar dengan lebih komprehensif dengan menguasai konsep secara utuh.
    • Siswa akan terdorong untuk melakukan praktikum di sekolah dengan lebih serius dan menghubungkannya dengan konsep yang berhubungan dengan kompetensi yang sedang diajarkan.
    • Siswa akan lebih memahami peran kimia dalam kehiduapan sehari-hari.
  3. Lembaga (Sekolah)
    • Sekolah akan lebih memfasilitasi guru dan siswa dalam melakukan kegiatan laboratorium.
    • Sekolah akan lebih memberikan sarana dan prasarana eksplorasi informasi dengan lebih baik, seperti internet dan media media yang lain.
    • Proses penyiapan UN Tahun berikutnya akan lebih baik menyesuaikan dengan model soal yang keluar pada tahun ini.
Wassalam

22 April 2008

Kembalikan Nilai Kejujuran Ujian Nasional

DOMINASI negara dalam penyelenggaraan ujian negara tahun 1945-1964 berakibat peserta yang lulus amat sedikit. Pada sistem ujian sekolah penuh (1965-1982), sekolah menyiapkan peranti ujian, melaksanakan, dan menentukan kelulusan. Peserta ujian lulus 100%, tetapi mutunya memprihatinkan dan tidak terstandarkan. Periode 1983-2002 diperkenalkan sistem ebtanas. Kelulusan siswa umumnya terganjal nilai ebtanas murni (NEM) yang rendah, tetapi sekolah leluasa mengontrol nilai rapor semester V dan VI sampai di luar ambang rasional. Hampir tiap sekolah meluluskan 100%, meskipun secara hakiki banyak yang tidak layak lulus.

Pada era UN (2003-sekarang), penentuan passing grade yang tiap tahun naik merupakan stressor yang menghantui siswa dan guru. Namun semua itu tidak diimbangi masukan yang terseleksi ketat, motivasi belajar yang baik, metode dan media yang efektif, intensifikasi KBM, serta pembenahan kurikulum.

Diakui, UN menjadi incentive learning. Berbagai kiat dan program pun dilakukan seperti bimbingan belajar dan penambahan jam belajar. Namun upaya itu dikhawatirkan hanya mengejar target nilai, sedangkan proses KBM gersang dan kehilangan makna. Bahkan siswa belum tentu memahami apa yang dipelajari. Namun rerata nilai ujian yang rendah pun mengecewakan peserta ujian, menyebabkan frustasi guru, dan berefek pada penerimaan siswa baru serta akreditasi sekolah.

Pencurangan UN semakin absurd. Misalnya, sejumlah pendidik meresahkan isu bocoran soal/kunci, pengawas ujian makin permisif, oknum mengedarkan presensi nyambi memberikan jawaban UN, dan mencontek lewat SMS. Ada juga modus pemanggilan peserta sebelum ujian usai, seperti satu Candra, dua Edi, tiga Ani, empat Dedi, lima Budi, yang sebenarnya sedang memberikan jawaban. Anehnya, tak ada nama dengan huruf awal F, G, S, karena jelas tak ada jawaban soal dengan huruf tersebut.

Hasil UN bukan semata-mata kebutuhan siswa, melainkan telah jadi kebutuhan berbagai pihak. Namun kecurangan harus tetap diberantas, sebab akan berimplikasi negatif terhadap pembentukan karakter siswa.

Karena itu, nilai kejujuran harus ditumbuhkembangkan, pendekatan proyek harus dihilangkan. Ranah afektif, psikomotorik, dan pengembangan kreativitas seharusnya sudah beres pada proses KBM. Selain itu, pemerintah harus constructive remarks, melakukan inovasi sistem ujian yang ideal.

— Penulis adalah guru SMK 5 Semarang

17 April 2008

Penipuan dengan Modus Paket Soal UN 2008

Posted by Unknown 11:53 AM, under | 1 comment

Assalamualaikum wr. wb.
Mohon perhatian bagi semua pengunjung weblog ini agar berhati-hati dengan komentar yang ada di posting bocoran soal un 2008 (klik di sini). Terdapat beberapa komentar yang menawarkan untuk memberikan bocoran lengkap dengan paket bahkan kunci soal dan lokasi ujian pelaksanaan. Kami berharap untuk tidak percaya dengan komentar tersebut dan tidak menanggapinya. Dan bagi yang telah memberikan komentar dengan isi iming-iming kunci serta bocoran tersebut mohon untuk mengerti jika komentar anda akan segera kami hapus. Dan kami dari fihak pengelola weblog SMA Cepiring tidak bertanggung jawab terhadap transaksi yang kemungkinan terjadi antara penerima bocoran dan pemberi bocoran. Mohon Maklum.

Wassalam

15 April 2008

mOHON mAAF. sedang dalam perbaikan

Posted by Unknown 12:10 PM, under | No comments

Assalamualaikum wr. wb.
Weblog ini sedang dalam perbaikan..., mohon maaf jika anda menemui ketidaknyamanan dalam penggunaannya.
Terima kasih sebelumnya..., sebagai alternatif kunjungan anda dapat mengunjungi di http://jipkendal.wordpress.com
harap maklum
wasalam

11 April 2008

PENANDATANGANAN MOU PROPINSI VOKASI

Posted by Utomo 8:00 PM, under | No comments

Menurut rencana besuk Sabtu, 12 April 2008 bertempat Hotel Lor Inn Solo Mendiknas Bambang Sudibyo akan mencanangkan JAWA TENGAH SEBAGAI PROPINSI VOKASI. Pada kegiatan yang dihadiri oleh Gubernur Jateng, semua Bupati /walikota dan kepala Dinas Pendidikan se Jateng tersebut itu selain akan disampaikan blue print propinsi vokasi juga akan ditandatangani MOU antara Mendiknas, Gubernur Jateng dan Bupati/Walikota untuk mendukung percepatan pencapaian prosentase jumlah siswa SMK (60%) : SMA (40%) melalui program di Kabupaten/Kota masing-masing.

04 April 2008

Aspek Moral Dalam Ujian Nasional

Posted by Utomo 6:21 AM, under | No comments

Harus diakui bahwa menghadapi pelaksanaan Ujian Nasional yang persyaratan lulusnya makin meningkat menimbulkan kekhawatiran berbagai pihak. Siswa jelas khawatir jangan-jangan dia tidak lulus, pasti kena marah orang tua dan malu dihadapan teman. Orang tua khawatir anaknya tidak lulus, artinya sudah kehilangan sekian juta rupiah dan harga diri sebagai orang tua. Guru khawatir dianggap tidak profesional karena siswanya banyak yang tak lulus. Kepala sekolah pun tentu sangat khawatir karena bisa dianggap tidak bisa memimpin sekolahnya. Bahkan kepala Dinas dan Bupati/walikota sampai menteripun khawatir terhadap kelulusan ujian nasional.
Baca selanjutnya :lihat http://utomokdl.blogspot.com/

Penanda

Arsip Blog