22 Agustus 2013

MENYEMAI NILAI – NILAI PANCASILA

Posted by sukasmo 9:27 AM, under , | 4 comments



Dunia pendidikan kita seolah memiliki dua sisi yang jika dipahami dengan baik memiliki kontradiksi cukup tajam. Satu sisi setiap tahun Indonesia diharumkan oleh putra-putri bangsa melalui olimpiade ilmu pasti seperti matematika dan fisika. Hal tersebut tentunya sangat mampu membuat guru se-Indonesia tersenyum bangga. Akan tetapi tidak jarang wajah kita sedikit mengerut jika mendengar pemberitaan tawuran pelajar, penyalahgunaan narkoba, dan beberapa potret suram sebagian anak didik kita. Dan sangat disayangkan biasanya ekspos hal-hal positif dunia pendidikan kita hanya disebarkan dengan durasi yang tidak sepanjang pemberitaan carut-marutnya kondisi kita.

Akan tetapi hal tersebut sudah sepatutnya kita refleksikan bersama sebagai cermin dunia pendidikan agar menatap ke arah yang lebih baik di masa kini dan masa datang. Jika kita soroti hal yang paling mencolok dalam output dunia pendidikan kita adalah mulai lunturnya etika dan nasionalisme putra-putri bangsa. Beranjak dari sanalah seharusnya kita sadari ada bagian penting dari pendidikan kita yang terlupakan. Secara mudah mungkin kita bisa mengelak dengan mengkambinghitamkan globalisasi sebagai sumber “bencana moral” bangsa ini, namun hal tersebut tentunya tidak akan mampu mengurai benang kusut moralitas bangsa. Globalisasi harus tetap berjalan karena memang tidak akan mampu dibendung, namun diperlukan penyeimbang agar globalisasi berjalan tanpa harus bertentangan dengan karakter luhur bangsa kita.
Guru menjadi pihak yang paling disorot tajam jika sampai terjadi degradasi moral bangsa dan akan lebih sadis dan menyakitkan jika kita mendengar vonis bahwa degradasi moral adalah kegagalan pendidikan. Untuk menangkal kemungkinan terburuk tersebut, seluruh stake holder pendidikan harus bersatu untuk membentuk sebuah sistem pendidikan yang kuat, modern, dinamis, dan tentunya berkarakter Indonesia. Untuk mendapatkan karakter Indonesia pada anak didik itulah diperlukan kembali penanaman jiwa Pancasila pada putra-putri bangsa melalui jalur pendidikan.
Jika kita flashback beberapa dekade yang lalu kita mengenal adanya pelajaran Civic, Pendidikan Moral Pancasila, dan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Akan tetapi sekarang seiring dengan perkembangan situasi negara, akhirnya PPKN pun diubah menjadi Pendidikan Kewarganegaraan. Sekilas tidak terlihat perbedaan yang prinsipil akan tetapi perubahan PPKn menjadi PKn menghilangkan satu kalimat Pancasila. Dan ternyata bukan sekedar kalimat Pancasila yang disirnakan akan tetapi kandungan materi pelajaran tersebut pun lebih banyak menyoroti masalah kewarganegaraan dan kurang mendalami isi butir-butir Pancasila. Kita bisa membuktikan dengan cara melihat kemampuan anak SD era sekarang, mereka akan lancar menjelaskan bagaimana syarat-syarat menjadi anggota legislatif atau tata cara memilih dalam Pemilu daripada menjelaskan makna dari salah satu sila dari Pancasila. Hal tersebut tentunya membuat miris kita sebagai tenaga pendidik yang khawatir Pancasila akan luntur dari dada penerus bangsa ini.
Menyikapi hal tersebut, diperlukan solusi cerdas dan aplikatif untuk tetap menanamkan jiwa Pancasila kepada peserta didik tanpa harus menyalahkan pihak manapun dan kondisi apapun. Beberapa tips sederhana untuk menanamkan jiwa dan nilai-nilai Pancasila kepada anak didik yang dapat diterapkan di sekolah di antaranya :
     1.    Biasakan siswa mengucapkan Pancasila setiap hari;
Hal pertama ini sepintas terlihat berlebihan, akan tetapi tidak ada salahnya kita coba agar tidak terjadi lagi anak sekolah, mahasiswa, bahkan (maaf) pejabat negara yang lupa melafalkan Pancasila. Minimal dengan cara ini siswa mulai mengenal apa itu Pancasila dan diharapkan akan membekas dalam memori mereka sampai mereka kelak menjadi penerima estafet pembangunan bangsa kita.
     2.    Pasang butir-butir Pancasila di dalam kelas dengan kemasan yang menarik;
Cara kedua ini memerlukan kreativitas guru untuk mengemas butir-butir Pancasila dalam bentuk tulisan maupun gambar yang menarik dan dipajang di dalam kelas ataupun di tempat strategis lain di sekolah agar menarik perhatian siswa. Misalnya guru membuat tulisan untuk kelas I SD dengan kalimat sederhana dan mudah dicerna seperti “Anak Hebat Suka Bersahabat”. Kalimat sederhana tersebut jika didalami memiliki keterkaitan dengan sila ketiga dari Pancasila. Atau untuk tingkatan usia SMP bisa dimasukkan kata-kata yang lebih komunikatif seperti “Arogansi No, Toleransi Yes”. Meskipun secara tata bahasa kurang mengenakkan akan tetapi bahasa seperti itulah yang pada kenyataannya lebih mengena kepada anak yang menginjak remaja.
     3.    Tanamkan nilai-nilai luhur Pancasila sejak dini;
Tips berikutnya adalah menanamkan nilai luhur Pancasila sejak usia dini, minimal sejak anak memasuki jenjang SD. Cara yang bisa dilakukan misalnya dengan cara membiasakan anak didik bersalaman dengan teman-temannya setiap bertemu di sekolah atau membiasakan anak didik untuk bermain dan bergaul tanpa memandang perbedaan suku ataupun agama.
    4.    Adakan waktu ekstra untuk mempelajari nilai-nilai Pancasila;
Hilangnya pendidikan Pancasila secara eksplisit di sekolah dapat diatasi dengan mengadakan kegiatan penanaman nilai Pancasila di luar jam pelajaran formal. Hal ini dapat dilakukan dengan merancang kegiatan sesuai dengan tingkat psikologis siswa dengan tujuan menanamkan satu per satu nilai-nilai luhur Pancasila. Sebagai ilustrasi sederhana, apabila setiap 2 minggu sekali diadakan kegiatan semacam ini, bayangkan berapa nilai Pancasila yang telah kita semaikan selama satu tahun pelajaran.
     5.    Masukkan Pancasila pada pelajaran lain.
Hal ini sudah dilaksanakan dengan mengintegrasikan nilai-nilai Pancasila ke dalam mata pelajaran yang lain. Akan tetapi guru hendaknya lebih berani menambahkan muatan Pancasila pada mata pelajaran yang relevan meskipun tidak tertulis dalam program pembelajaran maupun buku sumber yang tersedia.
Dengan kelima langkah sederhana dalam menyemaikan nilai Pancasila ke jiwa anak didik kita, sangat mungkin kita bisa mewujudkan harapan para pendiri bangsa untuk menjadikan Pancasila sebagai Dasar Negara dan Falsafah Hidup bangsa Indonesia. Tak perlu kita berpikir terlalu besar, lakukan penanaman karakter bangsa dari hal dan lingkungan yang paling kecil sekalipun agar terjadi perubahan yang besar di kemudian hari.

4 komentar:

Mohon ijin pak Kasmo untuk melampirkan file tulisan ini pada group Dinas Pendidikan Kabupaten Kendal

Monggo pak Yosh..
Wah jadi status baru di Grup Dinas Pendidikan Kab Kendal..

Syukur alhamdulillah saya ucapkan kepada ALLAH karna atas kehendaknya melalui MBAH RAWA GUMPALA saya sekaran sudah bisa buka toko sendiri dan bahkan saya berencana ingin membangun hotel dan itu semua berkat bantuan MBAH RAWA GUMPALA,saya tidak pernah menyanka kalau saya sudah bisa sesukses ini,atas bantuan MBAH RAWA GUMPALA yang telah memberikan nomor selama 3x putaran dan alhamdulillah itu semuanya tembus bahkan beliau juga membantu saya dengan dana ghaib dan itu juga benar benar terbukti,MBAH RAWA GUMPALA juga menawarkan minyak penarik kepada saya dan katanya minyak ini bisa digunakan untuk berbagai jenis keperluan dan baru kali ini saya temukan paranormal yang bisa dipercaya,,bagi teman teman yang ingin dibantu untuk dikasi nomor yang benar benar terbukti tembus atau dana ghaib dan kepengen ingin membeli minyak penarik silahkan hubungi MBAH RAWA GUMPALA di 085316106111 ini benar benar terbukti nyata karna saya sendiri yang sudah membuktikannya. BUKA BLOG MBAH RAWA GUMPALA

thanks for information,,sangat bermanfaat

ST3Telkom


Posting Komentar

Ass. wr. wb.
Trima kasih anda sudi meninggalkan komentar bagi kami, apapun isi komentar anda, kami yakin itu berangkat dari kepedulian anda tentang pendidikan terutama di Kabupaten Kendal ini.
Wassalam.

Penanda

Arsip Blog